ralat... kemaren abis diskusi enggak pinteng ama anak2 kosan ciheu yaitu uni devi dan kak siksa. nah, sayah setuju ama pendapat kak siksa,eh kak siska, bahwa itu pelem tidak sehebat novelnyah. saya pikir, memang kelemahan terletak pada pengalihbahasaan dari kata2 menjadi gambar. kak siska malah bilang aturan eta pelem diserahkan pada tangan dingin nia dinata. contohlah, kata kak siska, mana itu penggambaran seorang fahri itu baik? kurang kena. saya pikir, faktor novel ini telah booming jauh sebelom rencana pembuatan pelem dimulai. tokoh fahri telah 'dianggap' baik oleh para calon penonton, dan itu terbawa secara psikologis saat menonton pelem.
yaah, silakan berkomentar sendiri lah...