dunia putri - putri's world

ReviewReviewReviewReviewayat-ayat cinta (Tuhan)Mar 1, '08 12:24 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Pelem ini saya tonton rabu, 27 feb'08 ma echa+aci.

Secara teknis film, kami bertiga sepakat bahwa visualisasi film Ayat-ayat Cinta oleh Hanung Bramantyo ce es dari novel dengan judul yang sama hanya pada karakter tokoh. Bahwa tokoh Fahri agak terlalu klemar klemer jadi terkesan lebai. Tokoh Aisha wanita bercadar terkesan posesif. Kedua hal ini berbeda dari bayangan kami yang telah membaca novelnya.

Kembali ke masalah teknis, setelah saya diskusi dengan bna-binal alias banci-gatel, teman yg lain - via esya (halakh, penting ya bawa provider CDMA?) - sebenarnya secara keseluruhan film ayat-ayat cinta oke. Mungkin faktor ada unsur reliji yang sulit digambarkan. Mungkin hasil reading tiap pemain berbeda dengan novel, tapi karena semua sudah saling oke jadi yaa pelem itu sukses lah dibikin. Emosi tiap tokoh, terutama tokoh Aisha, sampai pada kami para penonton. Emosi yang dirasakan Aisha dalam film itu sebagai seorang istri yang merelakan suaminya berbagi cinta dengan perempuan lain. Sedangkan tokoh Maria Kristen Koptik itu sendiri menyadari, cinta tidak sama dengan rasa ingin memiliki. Bukan semata bahasa klise "cinta tidak harus memiliki".

Mungkin hanya saya sendiri yang menambahkan secara pribadi,bukan berarti film itu pembenaran demi cinta Maria mau pindah agama dari Kristen Koptik menjadi Islam. Terasa dari soundtrack Ayat-ayat Cinta yang dibawakan Rossa (lagu oleh Melly Goeslaw), "...ayat-ayat cinta bercerita,,,cintaku padamu...".

Sedangkan novel itu sendiri, sebuah novel yang nyaris terlalu sempurna. Namun, novel itu sendiri memiliki unsur reliji tanpa terkesan menggurui. Novel itu hanya bercerita, dengan kata-kata. Seperti film-nya, bercerita dengan gambar.

duniaputri wrote on Mar 6
ReviewReviewReview
ralat... kemaren abis diskusi enggak pinteng ama anak2 kosan ciheu yaitu uni devi dan kak siksa. nah, sayah setuju ama pendapat kak siksa,eh kak siska, bahwa itu pelem tidak sehebat novelnyah. saya pikir, memang kelemahan terletak pada pengalihbahasaan dari kata2 menjadi gambar. kak siska malah bilang aturan eta pelem diserahkan pada tangan dingin nia dinata. contohlah, kata kak siska, mana itu penggambaran seorang fahri itu baik? kurang kena. saya pikir, faktor novel ini telah booming jauh sebelom rencana pembuatan pelem dimulai. tokoh fahri telah 'dianggap' baik oleh para calon penonton, dan itu terbawa secara psikologis saat menonton pelem.

yaah, silakan berkomentar sendiri lah...
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help