Saya bingung mesti menuliskan apa sebagai resensi buku ini. Sebagai gantinya, saya akan menuliskan bagian cover belakang buku ini saja. Buku karya Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib, diterbtkan oleh Progress.
Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik, dan kebudayaan sudah terbukti "terjebak" dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana-sini, orang berbunuhan karena berbagai sebab. Negeri penuh duka dan kegelapan. Padahal di muka bumi tak ada orang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada masyrakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss baass buuss, jagongan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita dan yang budaya semacam itu sungguh memang hanya terdapat di kepulauan Nusantara. Tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Import sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan ke negeri ini.
Saya jadi ingat. Saya pernah berpikir bahwa kok negara RI ini memiliki kurs dollar yang lebih rendah daripada negara lain yang tampak miskin contohnya India. Waduh, bahaya ini. Secara tidak langsung saya menuduh India negara miskin. Kembali ke tentang buku ini, saya sarankan anda sekalian membacanya. Penyampaian pesan yang menggugah semangat untuk berkarya sekaligus merasa tersindir. Seorang teman, si babu pernah berkata, bahwa Cak Nun dalam buku ini terlalu melebih-lebihkan saja. Saya pikir tidak begitu. Saya jadi pingin komentar lagi, entah nyambung tidak dengan buku ini. Saya baca koran PR hari ini rabu 12 maret 2008. tentang komunitas keroncong yang mulai bangkit dan memperjuangkan generasi penerus mudanya. Dari sekian banyak hal bagus dari negara luar, saya pikir saya ingin meniru etos kerja keras agar lebih produktif, sikap individualis agar tidak menjadi penggosip walau saya saat ini masih suka bergosip, tapi untuk seru-seruan dan bertukar cerita saja lhoh - halakh, pembelaan diri. Selebihnya, ya saya bangga menjadi warga negara Indonesia.
 | Kapan2 lu pinjemin ke gw tuh bukunya... |
 | sip, ada noh di kerdus...BUKU KEREN lah, biar maju otak loe bu...heuheu... |
 | saya kagum pada Emha Ainun Nadjib :) |
| |
|